Minggu, 22 April 2012

Drama

akhir-akhir ini lagi sering banget nonton film drama mau itu tentang horor, cinta, keluarga, sahabat. Tp dari semua film-film itu saya melihat sesuatu. Bahwa dalam menghadapi apa pun semuanya butuh perjuangan. Tp dari semua perjuangan itu hasil bukanlah sesuatu yang penting lagi. Proses. Ya, proses yang paling penting untuk menyelesaikan sesuatu. Bukan hasil.
Contohnya film horor yang saya tonton dengan judul the women in black yang di peranin Daniel Redclife sebagai tokoh utama. Cerita dimulai pada masa sekitar tahun 1800-an. Dia yang bertugas untuk mencari surat dan sertifikat di rumah yang kosong di sebuah desa. Entah kenapa sejak kedatangan dia ke desa itu,satu persatu anak kecil di desa it mati dengan cara yang aneh. Ternyata hantu wanita bergaun hitam yang tinggal di rumah kosong itu memiliki dendam semasa hidupnya. Anaknya mati tenggelam di dalam lupur. Sampai tidak pernah ada seorang pun yang mengambil mayat anaknya dan dikuburkan secara layak. Karena dendam itulah dia yang sudah menjadi arwah "membisikan" kepada seluruh anak-anak di desa untuk melakukan bunuh diri. Sampa klimaksnya sang tokoh utama mengambil mayat anak hantu wanita tersebut dan dikuburkan secara layak. Namun di ending tetap saja hantu tersebut menyimpan dendam yang berakir dengan kematian tokoh utama dan anakny. Tragis. Tapi itulah pelajaran yang saya dapatkan apa pun hasil yang akan kita dapatkan tapi yang terpenting adalah usaha.
Dari semua film-film drama yang saya tonton mau itu cinta, misteri, komedi, keluarga atau persahabatan hampir semua endingnya ga bahagia. Tapi usaha dari tiap tokoh utama membuat saya kagum, meskipun akirny banyak yang harus mati atau di tinggalkan tapi mereka bener-bener berusaha meski nyawa taruhannya dan mereka bener-bener mati. Dahsyat emang..

Saat ini saya memiliki drama saya sendiri dan genrenya sangat bebas. Bisa jadi drama saya tentang keluarga, misteri, cinta, persahabatan, komedi atau apa pun bisa saja. Atau mungkin memang drama kehidupan saya merupakan hasil pencampuran genre-genre yang ada :)
yang saya pahami sekarang adalah tetap berusaha sampai titik yang paling ujung. Apa pun hasilnya tidak lagi penting, yang penting bagaimana saya memuat titik pada drama saya. Yang saya pahami pula adalah satu-satunya cara agar saya dapat membuat titik adalah dengan menuliskannya. Seperti titik pada akhir tulisan ini.
Titik.
.
.
.

16 april 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar