Jumat, 30 Maret 2012

Hilang Keinginan

Setelah sangat lama saya berfikir...
puncaknya pas nenek saya tiba-tiba sakit dan beliau sempat "sekarat". kami anak-anak dan cucu sangat khawatir dengan keadaan nenek. rasanya ga bisa dibayangkan jika tiba-tiba nenek yang tiap harinya ada bersama di rumah. beliau selalu mengingatkan makan, selalu bertanya sudah shalat subuh atau belum jika waktu subuh hampir habis, pergi ke pasar sendirian dengan berjalan kaki tiap 2 kali seminggu, selalu setia nonton acara lagu sundaan di TV bandung tiap sore menjelang magrib dan masih banyak kegiatan yang beliau lakukan, dan semua itu sudah sangat saya hapalan tahapan-tahapan. jika tiba-tiba nenek saya tidak ada di dunia ini karena sakitnya waktu itu, hal yang paling terasa di rumah adalah "kehilangan".
perasaan ini berbeda dengan kehilangan kekasih atau pun teman. karena nenek memiliki darah daging yang beliau turunkan kepada saya, maka perasaan sayang dan perhatian beliau terasa sangat jelas untuk saya. seringkali kita sebagai manusia kehilangan macam-macam. mungkin salah satunya kehilangan kekasih dan teman menjadi rasa kehilangan yang akan sangat terasa, tapi tidak akan mengalahkan kehilangan dari anggota keluarga yang saya miliki. orang yang benar-benar nyata ada di samping saya adalah nenek saya.
pada saat itu saya mencoba untuk menenangkan dan menguatkan diri, jika hal-hal terburuk terjadi pada nenek saya. sambil tarus berusaha memantau kesehatan dan melakukan hal yang terbaik untuk beliau meski pada saat itu keadaan nenek saya kadang inget dengan sekitar kadang tidak.
sekitar dua minggu nenek sakit dan seminggu lebih nenek dirawat dirumah sakit. alhamdulillah beliau dinyatakan pulih. akhirnya dirumah beliau kami jaga dan rawat bersama anak-anak dan cucu-cucu beliau secara bergantian. namun selama masa pemulihan nenek saya, saya jadi mengabaikan skrispi saya waktu itu meskipun kepikiran. pada saat itu pun saya banyak memikirka bermacam-macam hal. sampai saya merasakan hal yang ganjil. saya kehilangan keinginan.
saya seakan-akan melihat semua yang disekeliling saya seperti tidak nyata. namun disamping itu saya tetap harus menjalaninya karena nafas, detak jantung, dan gerak tubuh ini semuanya "nyata". pada tahap ini pun saya mulai lagi untuk mengerjakan skripsi yang terbengkalai selama kurang lebih 1 bulan selama nenek saya sakit. yang saya pahami dari rasa kehilangan keinginan dalam diri adalah melakukan yang terbaik untuk siapa pun juga diri sendiri jika memang itu terbaik.terkadang kita harus melihat masa depan tetapi yang terpenting adalah hari ini.
pernah suatu ketika saya menangis sebelum ketika saya menyadari bahwa saya hidup, bahwa saya banyak melupakan hal-hal remeh yang penting, sedikitnya rasa syukur saya kepada apa yang saya miliki. hidup saya ini bukan miliki saya. tapi saya telah banyak melakukan keburukan pada fisik, hati, dan pikiran dengan melakukan hal-hal yang sia-sia? belajar untuk selalu mengingat-Nya itu menjadi proses yang sangat berat. karena kita terlalu melihat dunia dan melakukannya secara "dunia" bukan secara "Allah".
saya yang melihat dunia secara dunia masih memikirkan tentang masa depan, jodoh, pekerjaan, mimpi, dan cita-cita. itulah sisi ego dan nafsu saya melihat dunia.
kalo sekarang, saya telah kehilangan semua keinginan itu. yang saya tau adalah lakukan yang terbaik apa yang bisa dilakukan hari ini..
orang tua sering membicarakan tentang jodoh, tapi karena saya tidak berusaha mencari dan tidak yakin bakal ada yang tertarik sama, jadi saya jalani semuanya dengan apa adanya saya hari ini. kalau pun Allah punya jalan lain tiba-tiba saya dapet jodoh saya maka itu adalah pemberian Allah yang terbaik untuk saya.
teman saya ada yang bertanya tentang semacam pekerjaan, mimpi atau hal apa yang ingin saya lakukan? itu pun sama sekali sudah tidak saya bayangkan bahkan saya pikirkan. kalo dulu mungkin ya, saya punya keinginan-keinginan melakukan ini dan itu. tapi sekarang apa pun hal yang bisa saya lakukan baik itu yang akan menjadi pekerjaan atau bukan akan saya lakukan sebaik-baiknya. saya sudah berhenti untuk memimpikan atau menginginkan hal yang muluk-muluk. apa pun pekerjaan yang saya dapatkan selama itu baik akan saya lakukan, meski akan jauh dari jalur pendidikan saya sebagai guru?! mungkin saya bakal kerja di restoran? supermarket? kasir atau apa pun, who knows?

hal ini wajar ga sih? kenapa saya tidak merasakan apa yang orang lain rasakan???? kadang-kadang saya masih kepikiran tentang itu :D
hahahahahahaha